Jumat, 02 November 2012

Jangan Pernah Meremehkan Orang Lain


Pada suatu hari, seorang anak masuk ke dalam rumah makan yang sangat terkenal dan mahal. Dia masuk seorang diri dan memakai pakaian biasa saja, tidak seperti anak-anak lain yang memakai pakaian yang bagus. Anak itu duduk di salah satu kursi lalu mengangkat tangannya untuk memanggil salah satu pelayan.
Seorang pelayan perempuan menghampiri anak kecil itu lalu memberikan buku menu makanan. Pelayan tersebut agak heran mengapa anak kecil itu berani masuk ke dalam rumah makan yang mahal, padahal dari penampilannya, pelayan itu tidak yakin bahwa sang anak kecil mampu membayar makanan yang ada.
“Berapa harga es krim yang diberi saus strawberry dan cokelat?” tanya sang anak kecil.
Sang pelayan menjawab, “Lima puluh ribu,”
Anak kecil itu memasukkan tangan ke dalam saku celana lalu mengambil beberapa receh dan menghitungnya. Lalu dia kembali bertanya, “Kalau es krim yang tidak diberi saus strawberry dan cokelat?”
Si pelayan mengerutkan kening, “Dua puluh ribu,”
Sekali lagi anak kecil itu mengambil receh dari dalam saku celananya lalu menghitung. “Kalau aku pesan separuh es krim tanpa saus strawberry dan cokelat berapa?”
Kesal dengan kelakuan pembeli kecil itu, pelayan menjawab dengan ketus, “Sepuluh ribu!”
Sang anak lalu tersenyum, “Baiklah aku pesan itu saja, terima kasih!”
Pelayan itu mencatat pesanan lalu menyerahkan pada bagian dapur lalu kembali membawa es krim pesanan. Anak itu tampak gembira dan menikmati es krim yang hanya separuh dengan suka cita. Dia melahap es krim sampai habis. Kemudian sang pelayan kembali datang memberikan nota pembayaran.
“Semua sepuluh ribu bukan?” tanya anak itu lalu membayar es krim pesanannya dengan setumpuk uang receh. Wajah sang pelayan tampak masam karena harus menghitung ulang receh-receh itu. Lalu sang anak mengeluarkan selembar uang lima puluh ribu dari saku celana belakangnya, “dan ini tips untuk Anda!” ujar sang anak sambil menyerahkan selembar uang tersebut untuk si pelayan.

~KEGAGALAN ADALAH SEBUAH PINTU~



Dikisahkan ada seorang anak muda yang frustasi. Ia merasakan apa yang ia lalui dalam hidupnya adalah kegagalan demi kegagalan. Suatu ketika, ia terdiam sejenak sambil duduk di sebuah teras rumah. Ia terkejut oleh kehadiran seorang kakek di hadapannya.

Sang kakek tersenyum bijak sambil menatap anak muda itu dan berkata "Mengapa kamu terkejut melihat kakek? Pandanganmu kosong, sehingga kakek berjalan ke arah mu tapi kamu tidak menyadarinya. Kamu kenapa anak muda?"

Anak muda it berkata kepada sang kakek, "Kakek, saya lelah. Apa yang saya lakukan selalu gagal, gagal, dan gagal. Saya tidak tahu harus bagaimana dalam hidup ini."

Tak terasa sampailah mereka pada sebuah rumah kacayang didalamnya terdapat pot-pot bunga yang sangat indah. Kemudian sang kakek berkata "Anak muda, masuklah ke dalam melalui pintu kaca itu dan ambillah pot bunga yang terlihat dari pintu kaca ini, kemudian bawalah kemari."

Anak muda itu sama sekali tidak mengeti apa maksud kakek tersebut. Tapi dia tetap mencoba untuk mengambil pot bunga seperti yang disarankan sang kakek. Dalam hatinya bergumam "Kalau cuman untuk ambil pot bunga sih, aku pasti bisa mengambilnya."

Ia pun membuka pintu kaca itu. Ternyata pintu itu tidak hanya satu, namun ada berlapis-lapis. Sehingga dia harus membuka pintu kaca lagi, lagi, dan lagi. Hingga ia mendapatkan pot bunga itu pada pintu terakhir. Segera ia berlari pada sang kakek sambil membawa pot bunga lalu memberikannya kepada sang kakek.

"Kek, ini pot bunganya," Ucapnya

Sang kakek menjawab, "Hai ank muda, lama sekali kamu mengambil pot bunga itu?"

Si anak menjawab, " Ya Kek, saya melihat jelas pot bunga itu dari luar sini, ternyata ketika saya masuk, saya harus melewati banyak pintu kaca yang saya buka satu persatu sebelum saya dapat mengambilnya."

Sang kakek berkata, "Itulah kesuksesan nak."
"Anak muda, pintu yang kamu buka tadi adalah kegagalan yang kamu alami. Karena kamu berkeinginan dan berkeyakinan kuat, sehingga walaupun kamu lelah, kamu masih bertenaga untuk membuka pintu kegagalan itu satu demi satu. Semakin banyak pintu kegagalan yang kamu buka, maka semakin dekat kamu dengan kesuksesan." Imbuh sang kakek.

Kemudian, anak muda itu terduduk dan terdiam. Tersadarkan akan apa yang ia lalui. Ia pun berjanji pada diri sendiri untu bangkit dan tidak menyerah. Ia mengucapkan terima kasih kepada sang kakek yang telah membuka matanya kepada kehidupan.